Monday, November 30, 2009

FILOSOFI BERMAIN BERPELUH KERINGAT

Permainan hari ini seru biru.
Namanya main lempar batu sembunyi kepalamu.

Begini mainnya.
Kita lempar-lemparan semua jenis batu yang sudah kita kumpul.
Tapi harus dilempar satu-satu.
Sampai sini sudah jelas?

Akan lebih jelas lagi, kalau saya sudah bilang : batu ini harus dilempar ke arah lawan.
Pemenangnya?
Nanti dulu, masih panjang aturan main kita.

Kamu boleh, boleh sekali bermain secerdik yang kamu bisa, securang yang kamu mampu.
Sayang sekali kalau kamu cuma bisa bermain buruk, kan?
Dengan ketidakterbatasan aturan main ini, kamu punya 10.000 cara paling elegan untuk memenangkan permainan lempar batu ini.
Dan 1 juta cara terburuk, dan sayangnya, semua orang pasti sudah mencobanya.
Tapi saya tahu kamu,
Yang terlalu sombong untuk bermain kotor tanpa baju.

Sekarang kita bicara tentang pemenang, dan pengalah.
Kenapa kaukerutkan dahi?
Oh. Itu. Aku hanya ingin menjadi wasit sempurna.
Eh, adil. Aku netral.
Orang yang menang jadi pemenang.
Orang yang kalah tentu saja pengalah.
Salah?
Tidak? Bisa kita lanjutkan sekarang,

Mereka yang menang adalah mereka dengan luka sebanyak mungkin di kepalanya.
Kenapa?

Pertama, mereka tidak takut.
Darah dan lebam, besok juga pergi kabur.
Mereka tidak datang dengan helm,
Yang melindungi kepala mereka justru otaknya.

Kedua, pemenang adalah si pemain berotak.
Terlalu mudah untuk menang jika kamu berdiri di tengah medan area dan menjual kepalamu untuk dilempari batu.
Sangat mudah, dan murahan.
Cuma yang murahan seperti itu yang akan hidup tanpa luka lebam di sini, pemainku.
Bukankah barang dengan edisi terbatas selalu habis di pasaran dalam sehari,
Dan tiga baju seharga sepuluh ribu akan tinggal tergantung di ujung depan etalase toko.
Sampai depan jalan,
Mengiba untuk dicuri barang sehelai.

Ini kriteria ketiga.
Rasakanlah permainanmu.
Mainkan perasaanmu.
Ini lapangan, bukan papan catur.
Dan kamu juga bukan biji catur!
Sadari di sini tidak ada garis, juga tidak ada batas waktu.
Tidak ada seorangpun mengenakan jam tangan.
Sekarang paham, jam tangan dilepas bukan karena alasan material.
Mereka akan selesai bermain,
Ketika keringat-keringat tidak lagi terproduksi,
Ketika tawa terkencing-kencing itu sudah berserakan dan siap dibereskan.

Ketika semua pemain percaya,
Aku tidak lagi diperlukan di sini.

Tidak pernahkah kau menangis,
Dan merasa permainan ini jauh dari adil, pemain veteranku?
Tanyaku yakin bahwa mereka tidak yakin dengan pengusiran wasit pembela keadilan ini.

Permainan ini jauh dari adil, ujarnya.
(*aku berhenti mengepak barang)

Tetapi aku pernah menjadi pemain.
Tetap pemain walaupun aku hanya duduk dengan sebotol mineral di tangan.
(*dia bantu aku lipat semua bajuku)


Bukan aku tidak mau marah dengan 1.010.000 pelempar, wasit.

Semenjak aku mendarat di lapangan hijau tempat menari dan terbang terluas,
Aku tidak bisa marah.



Aku sudah bersumpah untuk menjadi pemenang dengan 4 kriteria itu.


(*seragamku dicopot. Bodohnya, aku mendaftar jadi pemain hari ini)





adnanauS
29/11/09

2 comments:

  1. hahahaha siake!!! gue mrasa tersindiiirrr!!

    ReplyDelete
  2. Bakat gw emang nyindir2 org,haha...Berasa nyet??Colongan terus lah di sini,notes gw dieksplor si babeh..*ga berani pulang.

    ReplyDelete