15/11/09
Beberapa bulan setelah liburan September kemarin, semua yang sangat baik terjadi di sekitar gua. Well cuma satu sisi hidup aja, ada manusia baru yang mendadak mengalami lompatan kuantum gara-gara gua terlalu memanjakan my favorite buddy, the smell sense. Hehehehe (*ciyeeehh,,,backstreet mode on!!)
Siap euphoric lagi kita…??!.hehe,,setelah zaman saya berkencan buta dengan Rhumba Coffee-nya Regal yang suddenly bikin euphoric parah gara-gara si rhum kayaknya kebanyakan banget (*enak tapi, enak). Cengengesan lah gua sepanjang dari PIM sampe jam 4 pagi, ditemani the one and only partner on crime, si Onye pedofil, secara online. Ngapain? Kaga inget lah, hahahaa..NANYA gua ngapain MALEM-MALEM jam segituan?? Salah total. (*FYI, kadar memori menurun di malam hari; kemampuan menulis, merangkai bahasa se-njelimet paper, membiatch, flirting2, curcol2, sampe bikin ‘project kenakalan’ remaja tingkat akhir, productive to the max!)
Yang pasti kita membodoh tentang kita yang bodoh, ngeledekin kebodohan masing-masing, dan pastinya updated biatchees around us…seolah gak ada perbedaan jarak dan waktu *always love u nyeett!!!! Padahal si kampret satu lagi siang-siangan sementara gua mau gila gak bisa tidur di minggu malem (padahal besoknya hari pertama masuk kerja…*whew, cerita lama amat ya!), dengan penyebab si Rhumba Coffee. Hahaha. Whatta unimportant euphoric!
Ternyata Rhumba Coffee itu akhir perjalanan euphoria gua yang autis. Ada sesama mahkluk anti sosial yang seru berbagi segelas Java Chip Frappucinno bahkan yang se-ringan Fro Yo di tiap ujung Kota Jakarta dan sekitarnya. Well,,saya tiba-tiba punya teman ngopi, bertengkar, dan ketawa sampe keselek lagi!
*Dan heey…..kamu wangi sekali, teman! *big grin*
Cuma berjuta-juta jenis eforik yang muncul sampai minggu kemarin. It’s keep on coming, yes… tapi emosi-emosi lain dari sisi-sisi lain hidup gua melengkapi si eforik, supaya si hukum keseimbangan tetap berlaku.
Berapa orang diberitakan meninggal di Facebook, dan mereka bukan siapa-siapanya gua. Lalu juga berita terbakarnya rumah beserta pabrik roti besar-besaran milik salah satu teman kecil. Dan rumah tidak diasuransikan. Di mana keadaannya dia akan menikah pada tanggal 22 bulan ini (*yeah, one week to go), dan semua keluarga besar yang tinggal di sana ternyata selamat semua (*fuuh…thank God). Tapi gak ada satu barangpun yang bisa diselamatkan, termasuk juga gaun dan jas pengantin, juga sepatu yang sengaja dipesan untuk kepentingan acara pesta itu. Facebook kembali ramai…Yang ada di kepala gua waktu itu, ada apakah ini.
Banyak sekali berita yang gelap sekali di hari-hari cerah ini. Seolah matahari ingin berhenti sejenak memainkan perasaan orang-orang yang tidak pernah suka dengan teriknya,…….
Nyokap sms
Cie, Ko, Iie (*tante) Jolah meninggal.
Well, she’s not listed as my close family tree, which is yang sebenernya dia adalah sepupunya nyokap gua. Tapi…mau sejauh apapun urusan babableksip begituan, cuma dia satu-satunya orang yang bisa ngerti gua dari kecil. Dia iie gua sesungguhnya….
Yang nyikatin gigi gua dengan rasa takut menyakiti gigi gua waktu disikat.
Yang ngajarin nulis angka 1-10 vice versa kepada anak usia 3 tahun (*helloooo….3 years old writing 1-10…IN ONE DAY?????). Cuma dia yang bisa.
Yang pernah ngasih bodrexin tablet guna nurutin kemauan gua pas gua sakit kepala (gua yang kemakan iklan bodrexin obat tablet penurun panas dan sakit kepala dengan rasa jeruk).
Yang sering gua gangguin pas dia pacaran sama si om
Yang pernah bilang kalo dia sayang sama gua
Yang jadi tempat gua lari-larian kalo dikejar nyokap dan gagang sapunya.
Yang bikin gua seneng nemenin dia ke pasar karena pulangnya pasti gua dibeliin maenan ato minimal makan baso di Pasar Kapuk.
Yang punya kamar khusus di rumah lama (kita selalu bilang, itu kamar iie..walopun dia udah gak pernah tinggal di situ lagi dan udah jadi kamar gua & Guruh).
Yang tahu nama gua pernah akan menjadi Yoko kalo gua jadi muncul lahir di dunia dalam keadaan berkelamin laki-laki (*hiyaaahh…dia juga cerita tentang tampang bokap yang stressed out gara-gara gak nyediain nama perempuan, karena yakin sekali anaknya bakal berkelamin laki-laki. Nah!)
Yang rela saja dipanggil namanya saja (tanpa embel-embel iie) kalo gua udah lebih tinggi dari dia (*tetep dengan gaya ketawanya yang khas dan menyenangkan) ~dan semua orang tau nazar gua….haha…but I couldn’t call her so, even though I am taller already…
(satu-satunya) yang bisa gua peluk cium dengan sepenuh hati kalo gua pulang dari rumahnya
Yang walopun segitu jauh jarak usianya sama gua, kita tetep masih bisa ketawa-ketawa bareng, dan berisik banget ngurusin keponakan perawannya yang udah 25 tahun belom nikah juga…*grrrr…!!!
Yang gak pernah keliatan sedih.
Dan kehilangan dia, adalah alasan yang sangat penting yang membuat gua sedih.
Sedih karena ditinggalkan orang yang gak pernah keliatan sedih.
Dia meninggal sakit dengan gula darah 600, dan gak ada yang sadar kalo dia sakit. Dia terlalu pintar menutupi rasa sakit itu dengan ketawanya yang khas. Atau justru rasa sakit itu memang benar berkurang karena banyak tertawa?
Semua orang berpendapat: Dia meninggal karena lelah.
Pernahkah saya bikin kamu lelah juga kalau begitu ceritanya, ie?
Waktu sepupu dan nyokap bilang dia meninggal, it’s just a short attack. Gua hanya menghela napas, dan selesai. Besoknya bokap sms, pemakaman hari Minggu. Kalo bisa kamu datang, babe hutang budi banyak sekali.
Love needs respect. Appreciation as well.
Yang hutang budi itu saya.
Kenapa dari kemarin banyak yang “minta tolong” gua dateng? I would do it because I know she deserved my respect, deserved my appreciation.
Ketika gua masuk ke rumahnya, cuma bisa liat petinya dari luar. Petinya ditemani si om yang gak bisa berdiri tegak, dan kedua anaknya. Angga, 15 tahun, dan Cindy, 12 tahun.
Penghormatan terakhir.
Akhirnya si om ketemu sama gua. Dia peluk gua dan nangis dalam sekali. Gak mampu berbicara untuk beberapa saat, dan akhirnya bilang, “(Iie) seneng liat anaknya (gua) bisa dateng.” * and I couldn’t say anything but cry. Gua cuma bisa liat foto di depan peti, yang selalu terekam di kepala gua dari dulu, dan gua butuh re-saved it into my mind, and I did so.
Mengunjungi setiap sudut rumah
Ketika gua bisa berlama-lama di rumah kecil jauh sekali dari Bogor, tempat di mana waktu kecil gua menghabis-habiskan libur, main-main di rumput teki yang bagus rapi terurus, di mana bau obat nyamuk bakar selalu tercium di malam hari, di mana gua selalu tidur di samping dia dan mengobrol tentang banyak hal yang dia gak kenal juga, but I kept on talking with her til nite.
Dan sekarang rumputnya udah berbeda genus,
kamar mandi birunya gak pernah tersentuh aktivitas “memandikan gua di pagi dan sore hari”,
sumur belakang juga gak pernah berbunyi semenarik saat dia mengambil air untuk gua pupup. Ruang samping tempat gua maenin masak-masakan dan tembak-tembakan sama si ko Hengki & ko Pipiet juga sekarang penuh,
diduduki orang-orang yang akan mengantar dia hari ini ke pemakaman sederhana sekali di belakang rumah.
Gak pernah ada yang siap untuk mengantar iie ke pemakaman. Hanya jika kita punya pilihan lain.
Emang gua mesti ngabisin sisa-sisa tenaga eforik yang berminggu-minggu gua punya untuk hari ini. Karena ternyata lokasi makam adalah daerah di mana gua sering sekali melewati setiap jengkal langkah kaki ketika dulu gua bersama dia setelah pulang dari kebun belakang. Kenapa harus jalan ini juga.
Gak cukupkah gua nahan nangis di setiap spot di rumahnya dia? Harus ke tempat ini juga…………………………………………………………………………………………….
Let me finish my entire feelings, with my own way.
Tega sekali.
Akhirnya yah gua gak bisa sekalipun menghentikan air mata gua. The tears kept on coming! And I didn’t care at all. Gua ketagihan nangis setelah ngeliatin anaknya yang kecil seperti kehilangan kemampuan menangisnya. It’s ironic.
And I felt so sorry to her. She’s too young…and she well tried to deal with her lost.
Dan itu yang bikin gua nangis makin meradang.
Cuma ngalirin air mata, tanpa bunyi dan sedu, tapi…it’s mentally tiring.
Gua gak peduli semua orang bilang, “sudahlah…” *saya tahu apa yang saya perbuat, dan mengontrol untuk menghentikan tangisan gua, itu cuma perbuatan bodoh yang gak bikin gua lega.
Dan gua akhirnya cuma butuh 1 hari untuk recover kelelahan gua kemarin.
Tapi anaknya yang gak bisa menangis kemarin….sangat menyesakkan perasaan gua sampe sekarang.
She’s so alike her.
Gua gak bisa ngomong apa-apa ke dia. Sama sekali.
Dan si nyokap, yang gak pernah banyak peduli dengan segala macem jenis keponakan yang di mana-mana, kemarin ternyata bilang ke dia, “Cindy sering-sering maen ke Sukabumi yah….” *fuuuuuhhh….terima kasih sekali, mam, untuk bisa mewakili apa yang gua rasain. Untuk menyampaikan apa yang gak bisa gua sampaikan.
Sampai akhirnya gua balik kemarin, badan ini memang lelah. Tapi keadaan jiwa gua, berpuluh-puluh kali lebih lelah dari perjalanan gua.
Berkali-kali menggaung di kepala gua, pembicaraan di saat gua ngejenguk Cindy yang masih bayi waktu itu, “Sekarang bagian kamu yang jaga dia….hehheheee….enak aja lo udah iie jagain mpe udah jadi perawan begini….hahhahahha…”
Tenang.
Saya tidak tertekan.
Semoga saja, walaupun dengan bentuk yang berbeda, I have my own time, to keep my eyes…my heart on them.
Sama seperti perasaan rindu kita, yang gak pernah hilang, walaupun saya menghilang beberapa tahun dengan kehidupan saya sendiri. Kita selalu ada untuk keduanya.
Terima kasih untuk pernah di sini tanpa diminta, berada di titik yang tidak terjangkau dari visualisasi semua orang yang mengenal saya, padahal segala bentuk kecerdasan yang saya miliki sekarang, iie menaruh aset yang tidak terhitung.
Satu hari indah untuk diri sendiri
Untuk Duniaku, pemilik eforia berlebihan : Terima kasih untuk ada selama proses pengumpulan emosi yang harus dilepaskan, Duniaku, di dalam sini, memeluk kumpulan perasaan negatif itu untuk disatukan oleh rasa yang sangat positif, untuk membiarkan satu hari indah untuk dunia saya sendiri. Sayang sekali kamu.
I took one day off today,,,yihaaaaaaaiiii!!! And u completed it perfectly.
Ramalan cuaca:
Selasa (17/11) Cuaca cerah sekali sampai rasanya orang-orang yang menunggu murid-murid olahraga di Pertamina Simprug menyerah kalah dan mampu menenggak air mineral. *Cheers!!!!!!!!!!!!!!!!
adnanauS
16/11/09
No comments:
Post a Comment