Bermalas-malas, berbalas-balas.
Tempatku sekarang di satu kotak,
menguasai setiap jengkal kaki,
tapi tidak mampu menguasai kaki siapapun.
Takut sudah jadi makananku berapa hari ini.
Semua makhluk di sini tak serupa tubuhku,
walau mereka sama bau sepertiku.
Walau bisa, aku tak berani berlari-lari di sekeliling sini,
karena tidak ada satupun makhluk bergaris sama.
Rindu kamu, biru bergaris.
Aku sendiri memucat.
Biru, kuning, merah, putih, pucat!
Dan si pasangan warna-warni semakin terang mengejekku.
DASAR BAUUU!!
setidaknya bauku lebih tersamar karena si makhluk garis-garis kecintaan itu mengurangiku.
Andai kamu tidak merosot dan celaka, biru garis,
sekarang aku hangat berdekat dengan kulit di tubuh,
bukan berserak di kotak pengap gelap.
Mewarnai tubuhmu satu gambar yang tidak hilang, biru bergaris.
Di saat kita bosan bercanda dan memeluk,
cuma menggarisimu dan mewarnamu dengan ceria.
Sampai kita dicela warna-warna polos,
dan tidak pernah peduli adalah prinsip.
Lalu kamu sendiri pergi,
sesaat setelah kita berjalan dan makin mencintai.
Tapi aku bangga, biru bergaris,
kamu pergi dengan wangi,
yang sama meresap di kulit ini sampai tua nanti.
090809
No comments:
Post a Comment