Aku malas berbaju, Ibu.
Temanku tidak senang warna kuningnya,
padahal semua baju yang kita punya warnanya cuma kuning.
Sudah dari sananya nenek buyut kasih kita itu warna kan, Ibu.
Dia sendiri pakai merah.
Dulu bermain sama dia tak mengapa.
Memang sedikit aneh sih,
setiap hari bajunya cuma merah.
Aku kan tidak pernah tahu warna selain kuning milik kita, Ibu.
Sekarang aku tak bisa bicara sama dia karena bajuku,
itu tak adil, Ibuuu..
Aku tak mau berbaju.
Kalau karena dia tidak suka kuningku.
Tapi aku juga mau dia tidak berbaju, biar tak silau juga aku dengan merahnya.
Boleh ya, Ibu..
Kita simpan baju kuning ini untuk tidur dan di rumah saja.
Mereka tidak perlu tahu baju kita apa warnanya.
Aku tahu,
baju yang paling enak kita pakai, belum tentu enak untuk orang lain.
Jadi biar kita saja yang tahu, Ibu,
tentang semua wangi setrika dari tiap baju yang rapi tersusun.
Akan ada waktu untuk kita memakainya,
tapi ketika aku main ke luar sana,
berlari-lari berwarna-warni di setiap jengkal tanah,
tak perlulah merka lihat warna bajuku.
Dan aku pun tak ingin tahu.
Yang cukup kutahu
Cuma warna coklat legam kami yang sama dibakar matahari senja,
dan bau keringat yang disambut oleh jeweranmu, Bunda.
170709
No comments:
Post a Comment