Hey,kue dalam toples.
Mengapa mengecup hidungku begitu lembut.
Aku payah.
Saat kau tersaji lemah.
Dan isi kepalaku baru dibujuk aroma di sekeliling tubuhmu:Goyah.
Sepotong kamu lekat sudah.
Terhuyung dan bersekutu dengan lidah.
Aku jatuh cinta.Sungguh.
Bukan warna-warni yang membungkus tubuh bundarmu.Warna-warni itu tak berani lepas dari kamu.
Tak ada yang bisa lepas dari kamu.
Yang membiarkan mereka teriak sambil mengerjap bergulung-gulung di atas tubuhmu.
Kamu energi listriknya,manis.
Iya.Justru aku jatuh cinta pada si bundar sebelum berwarna ini.
Yang dibentuk penuh terang.
Yang diusap tanpa berang.
Perjumpaan bibirku dan tubuhnya ini entah yang ke berapa kali.
Di tengah gemerlap.Sehingga tak ada satu pecintamu yang menoleh pada kecemburuan raksasanya: Kita.
Si tempelan berwarna ini nyaris senada.
Terik di luar sana sudah membutakan mereka.
Aku punya kamu satu toples.
Penuh:tak pernah habis.
Bantu aku membagimu.
Aku tak bisa berhenti curang.
Semalam kupindah warna luarmu di dalam tubuh.
Tak ada yang menyentuh.Aha.
Besok.Tak tahu lagi apa isi kepalaku.
adnanauS
010710
No comments:
Post a Comment