Aku punya film baru,
Berlarian di sekeliling mata, iya, di mata coklatku yang kamu suka itu.
Larimu cepat seperti tak mau kalah dengan waktu.
Tahu-tahu film selesai. Cuma aku terganggu.
Harus kapan lagi aku tunggu episode baru tentang kamu, pesonaku.
Si alat pengontrol jarak jauh itu juga tidak berguna dengan sangat sempurna.
Tidak berfungsi. Sempurna busuknya. Sempurna kutukannya.
Kamu itu harusnya mengontrol itu film, kura!
Bukan aku yang kamu kontrol, aku mau kamu kembalikan muka aktris favoritku. Gerakan lambat.
16x lebih lambat.
Kamu tahu bedanya cepat dan lambat, eh.
Kamu tak bisa hargai waktu, pengontrol.
Aku marah.
Aku tak punya sedikit waktu untuk si pecinta mata coklatku.
Di saat waktuku segini menggunung, tak bisakah kau tahan diri.
Untuk sekedar melepas lapis kontrol sinting ini.
Aku mau dia.
Yang terbang-terbang tinggi dan kulihat dengan sempurna.
Setiap guratan-guratan senyum yang membuat aku merasa bisa terbang seketika.
Tanpa perlu merentangkan tangan, dan bilang ‘tetereteteett’.
* Si kata ajaib yang selalu menemani aku berimajinasi terbang sendiri.
Dia lebih dari kata ajaib itu, pengontrol.
Dia menari-nari terbang dengan sederhana.
Dengan aku di pagi harinya.
Dengan aku di pagi hariku.
Dengan pagi hariku.
Dengan hariku.
Dengan aku.
Aku.
Kamu iri, hey.
Aku tahu.
Makanya aku tidak dikasih nonton dia lama.
Kamu pasti juga tak mau lihat dia lama-lama, kan?
Kamu tidak bisa di sana.
Dia cuma mau aku.
Dia mau aku.
Dia.
Mau aku.
Tanpa kamu.
Ha
Ha
Ha.
Hey, aku suka tombol “pause” ini,
Kau tidak pernah mengajariku sebelumnya.
Kenapa tombolnya agak rapuh?
Hey. Hey. Hey.
Menyerah padaku, pengontrol.
Nyawamu setengah hidup di situ.
Satu per satu energi listrik yang menghidupimu kulepas lapis satu-satu.
Jangan halangi aku. Jangan. Berhenti.
Kali ini saja.
Sampai jumpa, pengontrol.
Sudah aku copot baterai hidup kamu.
Tut.Tut.Tut.
adnanauS
7/3/10
Berlarian di sekeliling mata, iya, di mata coklatku yang kamu suka itu.
Larimu cepat seperti tak mau kalah dengan waktu.
Tahu-tahu film selesai. Cuma aku terganggu.
Harus kapan lagi aku tunggu episode baru tentang kamu, pesonaku.
Si alat pengontrol jarak jauh itu juga tidak berguna dengan sangat sempurna.
Tidak berfungsi. Sempurna busuknya. Sempurna kutukannya.
Kamu itu harusnya mengontrol itu film, kura!
Bukan aku yang kamu kontrol, aku mau kamu kembalikan muka aktris favoritku. Gerakan lambat.
16x lebih lambat.
Kamu tahu bedanya cepat dan lambat, eh.
Kamu tak bisa hargai waktu, pengontrol.
Aku marah.
Aku tak punya sedikit waktu untuk si pecinta mata coklatku.
Di saat waktuku segini menggunung, tak bisakah kau tahan diri.
Untuk sekedar melepas lapis kontrol sinting ini.
Aku mau dia.
Yang terbang-terbang tinggi dan kulihat dengan sempurna.
Setiap guratan-guratan senyum yang membuat aku merasa bisa terbang seketika.
Tanpa perlu merentangkan tangan, dan bilang ‘tetereteteett’.
* Si kata ajaib yang selalu menemani aku berimajinasi terbang sendiri.
Dia lebih dari kata ajaib itu, pengontrol.
Dia menari-nari terbang dengan sederhana.
Dengan aku di pagi harinya.
Dengan aku di pagi hariku.
Dengan pagi hariku.
Dengan hariku.
Dengan aku.
Aku.
Kamu iri, hey.
Aku tahu.
Makanya aku tidak dikasih nonton dia lama.
Kamu pasti juga tak mau lihat dia lama-lama, kan?
Kamu tidak bisa di sana.
Dia cuma mau aku.
Dia mau aku.
Dia.
Mau aku.
Tanpa kamu.
Ha
Ha
Ha.
Hey, aku suka tombol “pause” ini,
Kau tidak pernah mengajariku sebelumnya.
Kenapa tombolnya agak rapuh?
Hey. Hey. Hey.
Menyerah padaku, pengontrol.
Nyawamu setengah hidup di situ.
Satu per satu energi listrik yang menghidupimu kulepas lapis satu-satu.
Jangan halangi aku. Jangan. Berhenti.
Kali ini saja.
Sampai jumpa, pengontrol.
Sudah aku copot baterai hidup kamu.
Tut.Tut.Tut.
adnanauS
7/3/10
No comments:
Post a Comment